Masih setengah sadar ku disini, di gubuk tengah Sawah di pinggiran kota Soppeng. Beralurkan desiran angin, akupun menghayal andai dia disini. Andai aku dan dia sepasang kekasih. Andai dia sudah tak berdua lagi.
Akupun masih menikmati hembusan angin, bunyi burung-burung kecil yg bermain dengan capung. Puluhan pohon kelapa pun bagai tersenyum memandanginya. Desiran angin mengumbar tawa pada padi-padi yg akan masuk masa panen
Masih dengan pen bertinta biru,juga dengan dua lembar kertas hitungku. Ku mengamati alam sekitar, menunggu para warga kelurahan Kaca untuk berakivitas. Jam menunjukan 13:48 yg menandakan bahwa sekarang adalah jam istirahat bagi warga. Begitu juga aku, yg beristirahat dengan damai bersama alam
Dia, perempuan yg sejak awal kuliah sudah menjadi primadona hati ku tiba-tiba datang. Entah angin apa yg membuat dia kesini, apakah angin tlah menyampaikan perasaanku padanya, oh ataukah perasaanya tlah sampai untukku. Dia berjalan perlahan melewati padi-padi yg seakan membelai lembut tangannya. Sinar mataharipun tak kuasa menyentuhnya.
Betapa tenang, betapa damai tempat ini, tempat yg jauh dari kesibukkan perkotaan, tempat yg bersih dari debu-debu dan gas buang truk-truk besar. Adakah hal yg lebih bagus dari ini? Ya ada, itu adalah saat ia menyapaku, dari kejauhan yg tersamarkan oleh keindahan alam. Senyum sumringah pun tak kuasa ku tahan, terpaku sejenak dalam mimpi, "apa yg akan ku tanyakan kepada dia nanti?" Bisikku pelan. Dia masih tersenyum dengan gigi kelincinya yg membuatku rindu akan dia.
Tanpa ku sadari dia telah berada satu atap denganku, di gubuk reot ini ku berdebar. Masih belum sadar juga, tlah lama ku pandangi indah senyumnya tanpa berkata apapun. Ku terpaku, ku membatu, ku mematung, entah kata apa lagi yg harus ku katakan tuk gambarkan betapa menhipnotisnya senyumnya untukku.
Betapa terkejutnya hati ini, ketika ku beradu mata dengannya tanpa sepatah katapun. Matanya jelaskan betapa polosnya dia, betapa sucinya ia, betapa jatuh cinta ku padanya. Andai bisa ku hentikan waktu, pasti ku takkan pernah bosan beradu pandang denganmu yg tersenyum manis kepadaku.
Belum sempat ku tuangkan perasaanku, kau sudah memegang erat tangan kiriku. "Apa ini? Apa ini cuman hanya ada dimimpi? Apa ini pertanda?" Aku bertanya pada diri yg bisu ini. Aku masih mengelana dalam mimpi yg jauh untuk suatu kenyataan. "Tuhan biarlah ini berlangsung lama, dan jauhkan aku dari dosa-dosa yg hina" doaku untuk jaga dia sementara dia masih menggenggam erat tanganku.
Tak hanya tangannya, dia mendekatkan dirinya padaku, dan menyandarkan kepalanya di bahuku. "Apakah ini jawaban atas semua rasa iriku pada orang-orang yg berpacaran disekitarku? Apakah ini suatu keadilan untukku yg slalu menjadi orang ketiga di tengah suatu jalinan?". Betapa damainya perasaan di tengah kedamaian alam yg mendamaikan.
Dia bertanya seraya menatapku, " apa itu disana yg terbang-terbang?" Sambil menunjuk kearah hamparan padi nan luas dengan wajah polosnya. Tersentak akupun menjawab dengan suara pelan "itu adalah capung, merekalah yg menemaniku sembari aku memikirkanmu" ku akhiri dengan senyum kearahnya. Dia tersenyum dengan memejamkan matanya kearahku dan mulai melingkarkan tanganya merangkulku sambil bersandar padaku.
Tlah habis kata dalam pikiranku untuk gambarkan perasaan apa yg ada dalam pikiranku sekarang. Akupun menikmati hal romantis ini. Menikmati indah setiap goresan tuhan pada alam dan pada dia. Bisakah aku menyimpan hal ini lebih lama lagi? Mengingat matahari yg sudah mulai turun, bagaimana bisa aku bersama perempuan yg menjadi bidadariku sampai malam menjemput.
Ku biarkan sejenak tuk menikmati mentari senja yg redup menyapa. Diantara celah-celah pohon kelapa cahayanya menembus bagai salam penutup hari ini. Dia semakin erat merangkulku, dan berkata pada capung yg terdekat dengan manja "terimakasih capung tlah menjadi teman seraya sang pemimpi mengahayalkanku". Aku tersenyum kepada dia dan menjulurkan tangan ku kepada capung yg seakan hendak mampir di bahuku. Ku tuntun dia, tapi dia malah menabrak telingaku dan bergantian pada bagian kepala lain.
Ku terperanjak dengan senyum, dan berkata "terimakasih capung"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar