Minggu, 20 April 2014

Mencoba Melankolis

"Biarkan aku melankolis
Biarkan aku menggalau
Karna tak pernah kau biarkan rasa ini menjamah mu
Karna kau tak pernah biarkan dirimu menemukanku"

"Jangan pernah mencoba mengerti betapa sakitnya aku mencintaimu
Biarkan aku menuai luka atas cintaku kepadamu
Tapi, cobalah mengerti betapa rasa cinta ini selalu lebih besar dari sakit yg ku dapat, betapa luka itu seperti oksigen ditengah hamparan karbon dioksida"

"Dan terkadang ku bagaikan padi yg di sejukan oleh embun, semakin banyak embun semakin menyegarkan. Tapi tidak bagiku, semakin banyak ku tuang rasa pada mu, malah semakin besar tekanan yg kudapatkan"

"Mengapa ku slalu patah dan butuh bertahun untuk sekedar menyamarkannya. Mengapa kau tak pernah sepertiku, mencinta penuh harap"

"Kita bertemu adalah suatu suratan takdir.
kau dengan dia adalah jalanNya.
Ku mencintaimu, adalah kebodohanku."

"Terkadang akupun mencari keramaian untuk mencuri senyum"

"Mungkin akan ku kumasukan kedalam doaku, bisakah ku mencintai orang yg orang lain juga tak menaruh cinta padanya"

"Bukan ku meratap pada nasib, bukan ku tak menerima hidupku, bukan ku mencaci jalanku.
Tapi ku hanya tak ingin melihat kau berhenti tersenyum walau dengan dia.
Tak ingin melihat kau berlinang duka walau dia tenangkan.
Hanya saja, bisakah senyum dan duka mu kita bagi berdua."

"Biarkan cinta ini mengalir, walau salah membasahi lautan cinta seseorang"

"Senyummu selalu ada di pikiranku.
Menjalin cinta dengan mu selalu ada dalam imajinasiku.
Bersamamu slalu ada dalam khayalku.
Bersanding denganmu hanya ada dalam mimpiku.
Tapi kau dan dia ada dalam kenyataanku"

"Dan aku, mengambil senyumanmu lagi mencuri tawa dari dia yg bersamamu. Entah sudah berapa lama aku melakukannya, melakukan hal yg sebenarnya tidak seharusnya kulakukan. Sebagai seseorang yg mengenalmu, sebagai seorang yg selalu bersama, walau hanya tugas dan jam kuliah yg kadang mempertemukan kita."

"Haruskah ku tuang dalam sajak2 untuk ungkapkan betapa cinta ini tak berbalas"

"Tidak ada yg jahat dalam cerita ini
Tidak ada yg salah dengan alur cinta ini
tapi satu yg ku sadari ku salah masuk ke dalam jalan cerita cinta orang lain."

"Kadang aku berfikir
Sajak apa yg tepat untuk menggambarkan perasaanku terhadap kau yg bersama dia."

Oh pernahkah kau mengerti kalau semua itu tertuju padamu?

Dari pinggiran kota Soppeng, pikiran ku menerawang jauh ditengah kedamaian hamparan padi di gubuk pak petani.

Soppeng, 12-04-2014

Daripada makan hati, mending makan matahari

Minggu, 13 April 2014

Terimakasih Capung

Masih setengah sadar ku disini, di gubuk tengah Sawah di pinggiran kota Soppeng. Beralurkan desiran angin, akupun menghayal andai dia disini. Andai aku dan dia sepasang kekasih. Andai dia sudah tak berdua lagi.

Akupun masih menikmati hembusan angin, bunyi burung-burung kecil yg bermain dengan capung. Puluhan pohon kelapa pun bagai tersenyum memandanginya. Desiran angin mengumbar tawa pada padi-padi yg akan masuk masa panen

Masih dengan pen bertinta biru,juga dengan dua lembar kertas hitungku. Ku mengamati alam sekitar, menunggu para warga kelurahan Kaca untuk berakivitas. Jam menunjukan 13:48 yg menandakan bahwa sekarang adalah jam istirahat bagi warga. Begitu juga aku, yg beristirahat dengan damai bersama alam

Dia, perempuan yg sejak awal kuliah sudah menjadi primadona hati ku tiba-tiba datang. Entah angin apa yg membuat dia kesini, apakah angin tlah menyampaikan perasaanku padanya, oh ataukah perasaanya tlah sampai untukku. Dia berjalan perlahan melewati padi-padi yg seakan membelai lembut tangannya. Sinar mataharipun tak kuasa menyentuhnya.

Betapa tenang, betapa damai tempat ini, tempat yg jauh dari kesibukkan perkotaan, tempat yg bersih dari debu-debu dan gas buang truk-truk besar. Adakah hal yg lebih bagus dari ini? Ya ada, itu adalah saat ia menyapaku, dari kejauhan yg tersamarkan oleh keindahan alam. Senyum sumringah pun tak kuasa ku tahan, terpaku sejenak dalam mimpi, "apa yg akan ku tanyakan kepada dia nanti?" Bisikku pelan. Dia masih tersenyum dengan gigi kelincinya yg membuatku rindu akan dia.

Tanpa ku sadari dia telah berada satu atap denganku, di gubuk reot ini ku berdebar. Masih belum sadar juga, tlah lama ku pandangi indah senyumnya tanpa berkata apapun. Ku terpaku, ku membatu, ku mematung, entah kata apa lagi yg harus ku katakan tuk gambarkan betapa menhipnotisnya senyumnya untukku.

Betapa terkejutnya hati ini, ketika ku beradu mata dengannya tanpa sepatah katapun. Matanya jelaskan betapa polosnya dia, betapa sucinya ia, betapa jatuh cinta ku padanya. Andai bisa ku hentikan waktu, pasti ku takkan pernah bosan beradu pandang denganmu yg tersenyum manis kepadaku.

Belum sempat ku tuangkan perasaanku, kau sudah memegang erat tangan kiriku. "Apa ini? Apa ini cuman hanya ada dimimpi? Apa ini pertanda?" Aku bertanya pada diri yg bisu ini. Aku masih mengelana dalam mimpi yg jauh untuk suatu kenyataan. "Tuhan biarlah ini berlangsung lama, dan jauhkan aku dari dosa-dosa yg hina" doaku untuk jaga dia sementara dia masih menggenggam erat tanganku.

Tak hanya tangannya, dia mendekatkan dirinya padaku, dan menyandarkan kepalanya di bahuku. "Apakah ini jawaban atas semua rasa iriku pada orang-orang yg berpacaran disekitarku? Apakah ini suatu keadilan untukku yg slalu menjadi orang ketiga di tengah suatu jalinan?".  Betapa damainya perasaan di tengah kedamaian alam yg mendamaikan.

Dia bertanya seraya menatapku, " apa itu disana yg terbang-terbang?" Sambil menunjuk kearah hamparan padi nan luas dengan wajah polosnya. Tersentak akupun menjawab dengan suara pelan "itu adalah capung, merekalah yg menemaniku sembari aku memikirkanmu" ku akhiri dengan senyum kearahnya. Dia tersenyum dengan memejamkan matanya kearahku dan mulai melingkarkan tanganya merangkulku sambil bersandar padaku.

Tlah habis kata dalam pikiranku untuk gambarkan perasaan apa yg ada dalam pikiranku sekarang. Akupun menikmati hal romantis ini. Menikmati indah setiap goresan tuhan pada alam dan pada dia. Bisakah aku menyimpan hal ini lebih lama lagi? Mengingat matahari yg sudah mulai turun, bagaimana bisa aku bersama perempuan yg menjadi bidadariku sampai malam menjemput.

Ku biarkan sejenak tuk menikmati mentari senja yg redup menyapa. Diantara celah-celah pohon kelapa cahayanya menembus bagai salam penutup hari ini. Dia semakin erat merangkulku, dan berkata pada capung yg terdekat  dengan manja "terimakasih capung tlah menjadi teman seraya sang pemimpi mengahayalkanku". Aku tersenyum kepada dia dan menjulurkan tangan ku kepada capung yg seakan hendak mampir di bahuku.  Ku tuntun dia, tapi dia malah menabrak telingaku dan bergantian pada bagian kepala lain.

Ku terperanjak dengan senyum, dan berkata "terimakasih capung"

Dari gubuk pinggiran sawah Soppeng

Bukan ku meratap pada nasib, bukan ku tak menerima hidupku, bukan ku mencaci jalanku.
Tapi ku hanya tak ingin melihat kau berhenti tersenyum walau dengan dia.
Tak ingin melihat kau berlinang duka walau dia tenangkan.
Hanya saja, bisakah senyum dan duka mu kita bagi berdua.

pematang

Derai tawa mengumbar iri
Merdu luka menuai canda
Kadang pagi mencuri sepi
Bagai tak ada malam tanpa senja
Mengapa kau biarkan goresan menjadi luka
Alunan kata puitis tak mngindahkan mu
Tuaian perasaan tak menyadarkan mu
Apakah ku harus mengulanginya?
Sajak pagi sang mentari
Mencoba mencari celah
Terhalang awan yg meneduh
Tak terjamah, oleh untaian padi
Tuk menghapus embun dan tergantikannya
Dari gubuk pinggiran sawah
Soppeng 14/04/2014