Senin, 21 Juli 2014

Asbak

Percuma cantik jika bukan kekasihku
Percuma kaya, jika bernafas pun bayar
Percuma punya tanah luas, jika gersang semata
Percuma ada syair nan indah jika keindahan itu takkan pernah ada lagi dibumi

Indah kata bermajas kesana-kemari lambangkan cinta, keberanian, penderitaan, suka cita, kehancuran, sampai capek
Inilah derita seorang anak manusia tanpa daya
Hanya terperanjat pada keypad hp
Berharap ada yg sekedar like, syukur-syukur dibaca

Bukan mengasihani diri siri sendiri
Bukan ingin dilihat bahwa bisa menulis omong kosong
Apakah ini yang akan ditujukan teruntuk anak cucu tercinta?
Itupun hanya jika masih ada umur dan masih ada kesempatan

Hidup takkan pernah sama
Hari ini, esok, bahkan 5 menit setelah membaca ini belum tentu jantung masih memompa darah ke otak
Pernahkah terlintas bahwa akan mati besok?
Pernahkah terfikir bahwa setiap rencana, khayalan, mimpi, atau angan fiktif takkan pernah terwujud jika nyawa nyawa sudah diangkat?

Pasti pernah terlintas dalam fikiran ingin lari-lari sore di sepanjang jalan sekitaran rumah sambil menikmati udara segar
Namun itu kini bagai mimpi, sedang membuka pintu rumah pun sudah bermandikan debu
Inilah kehidupan nyata dalam mimpi
Kehidupan yang jauh dari bayang-bayang gemilau hijaunya kota-kota besar yang selalu diekspose televisi.

Bayangkan apa yang tak pernah dibayangkan
Rasakan apa yang tak pernah dirasakan
Cukup kah kehidupan jika hanya berjalan pada porosnya?
Poros kenyamanan tanpa pernah merasakan direndahkan, dihina, diabaikan, dipandang sebelah mata tak punya reputasi
Pernahkah terfikir untuk berada diposisi orang-orang itu?
Pernahkan memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yg bukan dari golongan kalian?
Berhentilah menutup mata dan melihat lewat hidung.

Lihatlah harimau yang terkadang memasuki pemukiman warga dan dihajar lalu membunuh seorang manusia?
Lalu manusia dengan bangganya melempar tombak, menembak, sampai mengayunkan parang hingga harimau itu mati
Disini, sebenarnya siapakah yang salah?
Siapa mengambil hak siapa
Bukan cuma manusia yang punya hak, binatang pun punya hak, bahkan manusia yang bersifat binatangpun punya hak.

Manusia itu punya selera tinggi, kebutuhan yang tinggi, punya nilai seni yang tinggi
Sampai-sampai membangun bangunan diatasa laut berlandaskan seni dan kebutuhan
Untuk apa punya negara sebagai pusat destinasi wisata dunia sedang belajarpun kenegara lain
Buat apa punya kota yang menjadi pusat perhatian negara lain, sedang memelihara binatang saja tak bisa
Malah memelihara binatang berdasi.

Yakinkah masih bisa hidup besok
Yakinkah masih sehat 5 menit lagi
Masih bisakah cicit dari cicit kalian melihat Bekantan secara langsung?
Ah sudahlah, sekian.